Archive for category Pembangkit Listrik

Sepeda Motor Bertenaga Nuklir

Nuklir ternyata tidak hanya bisa digunakan untuk pembangkit listrik ataupun sebagai senjata. Nuklir ternyata ada manfaatnya untuk kendaraan roda dua. nuklir, di tangan perancang roda dua asal Prancis yakni Romain Herment ternyata dapat dimanfaatkan. Fusi nuklir akan memungkinkan energi nuklir menjadi sumber listrik untuk menggerakan mesin motor.

http://i976.photobucket.com/albums/ae247/chrisantino/nuklir-dalam.jpg

Romain menyebutnya Motorbike 2050 Version 2 atau sepeda motor 2050 versi 2. Sepeda motor yang diakuinya sangat keren dan begitu banyak detail yang menarik untuk masa datang. Sepeda motor itu membutuhkan deuterium dan tritium. Kedua unsur-unsur elemen alami itulah yang dibutuhkan oleh mesin temuannya.

http://www.instablogsimages.com/images/2008/01/16/bike_6648.jpg

Untuk diketahui Romain membuat konsumen konsumsi bahan bakar pada motor temuannya sangat efisien, seefisien 1 liter air per 100 Km. Selanjutnya, Romain menyatakan berat mesin motor bertenaga nuklir itu cukup ringan dan hanya 55 kg. Jauh lebih ringan dari sepeda motor kelas bebek yang menjamur di Indonesia.

MENGINTIP pembangkit listrik tenaga matahari TERBESAR di JERMAN

[solarpark_lieberose_03.jpg]


Ketika pejabat Jerman upacara meletakkan panel surya 560,000 th ke bingkainya di Lieberose pembangkit listrik tenaga surya pada 20 Agustus, orang-orang bertepuk tangan karena beberapa alasan. Alasan yang paling jelas untuk merayakan adalah kenyataan bahwa dengan menambahkan bahwa satu panel, 53 MW Lieberose telah menjadi yang kedua pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia (yang terbesar adalah 60 MW pabrik di Olmedilla, Spanyol).

Tapi itu juga merupakan saat-saat bahagia bagi Solar Pertama, di Tempe, Arizona produsen berbasis film tipis PV panel. Perlambatan ekonomi global telah memukul industri solar keras. Bahkan dalam lingkungan bisnis ini, First Solar dan mitra dalam usaha, Juwi Holding, AG, berhasil mempertahankan proyek di jalur. Fasilitas solar pembangkit listrik harus mulai akhir tahun ini, ketika semua panel 700.000 berada di tempatnya.

Akhirnya, Lieberose melampaui panggilan normal “energi bersih” kewajiban. Pejabat perusahaan memperkirakan bahwa tanaman akan menghasilkan listrik yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 15.000 rumah tangga, sekaligus mengurangi jumlah CO2 yang dihasilkan oleh 35.000 ton per tahun. Selain itu, proyek ini dibangun di atas bekas pangkalan militer Rusia di daratan hidup penuh dengan amunisi dan limbah kimia. Mitra matahari detektor logam yang digunakan untuk menyapu daerah dan pulih ratusan kerang, seperti yang di inset gambar di atas.

Sementara beberapa ahli percaya bahwa tanaman panas matahari akan menjadi generator skala besar dari pilihan di masa depan, proyek Lieberose menunjukkan bahwa film tipis-pembangkit listrik yang lebih murah untuk menghasilkan daripada Silicon tradisional PV berbasis variasi, yang layak sekarang . Dan jangan mengandalkan film tipis akan pergi dalam waktu dekat.

At First Solar markas di Tempe hari ini, perusahaan menandatangani nota kesepakatan dengan wakil pemerintah Cina untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya raksasa – dengan menggunakan film tipis PV – di Mongolia Dalam. Tanaman itu, yang akan selesai dalam beberapa tahap selama satu dekade berikutnya, akan memiliki 2 kapasitas gigawatt – lebih dari tiga kali lebih banyak dihasilkan oleh kekuasaan sebagai instalasi terbesar sekarang berada dalam jangkauan layanan.

PLTJ : Pembangkit Listrik Tenaga Jin

NGANJUK – Joko Suprapto tampaknya menginginkan hasil maksimal pada demonstrasinya yang direncanakan digelar hari ini. Kemarin dia mengujicobakan penemuan-penemuannya. Termasuk pembangkit listrik “tenaga jin” yang menurut Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sarat penipuan.

Sayangnya, wartawan hanya diperbolehkan meliput uji coba trafo, sedangkan ujicoba blue energy dan pembangkit listrik dilakukan tertutup. “Wartawan besok (hari ini, Red) saja datangnya. Malah lebih sip dari yang ini (uji coba trafo, Red),” ujar Joko. Hari ini memang direncanakan Joko mengadakan uji coba yang terbuka untuk umum.

Uji coba trafo dilakukan di area bengkel mobil yang terletak sekitar 30 meter sebelah Selatan rumah Joko di Dusun Turi Desa Ngadiboyo Kecamatan Rejoso. Pukul 10.40, Joko bersama Komandan Kodim (Dandim) 0810 Nganjuk Letkol Chrisetyono Tri Suprapto berjalan kaki dari rumah menuju bengkel.

Turut serta dalam rombongan kecil itu Budi Santoso, staf pengajar Lembaga Pengkajian Teknologi (Lemjiantek) TNI Angkatan Darat Jakarta. Berbagai rangkaian kabel dan alat tes dipersiapkan sendiri oleh Joko dibantu tiga orang asistennya. Alat tes trafo itu adalah mesin las listrik.

Sekitar 20 menit dia menghubungkan berbagai macam kabel ke avometer dan trafo yang tertutup kotak bersemen. Kabel berwarna merah, biru, putih dan hitam berbagai ukuran disambung dari dalam trafo. “Coba listrik sana di nyalakan,” perintah Joko kepada asistennya yang berada di bengkel.

Letak kotak trafo itu memang berada di pojok area bengkel. Sekitar 15 meter dari bangunan utama. Hanya sebentar dinyalakan, listrik yang berasal dari PLN kembali di matikan. Berarti tidak ada suplai listrik ke trafo. “Sekarang coba las-nya,” Joko kembali memerintah.

Pertama kali dicoba, las listrik itu tidak berfungsi. Setelah ujung elektroda las digesek-gesekkan, las listrik itu berfungsi. Duapuluh-an warga yang hadir pun bertepuk tangan. “Sekarang tidak butuh listrik PLN,” teriak salah satu pengunjung. Las listrik itu di coba di atas sebuah lempeng besi dan berfungsi normal.

Meskipun didesak wartawan, Joko tidak mau diwawancarai. Tetapi akhirnya Iptu Budi Santoso angkat bicara. “Ini seperti yang dilakukan Einstein dengan hukum relativitas energinya. Yaitu melipatgandakan energi dengan mengkuadratkan nilainya,” terang Budi sambil merujuk rumus E=mc2-nya Einstein.

Menurutnya, kejadian ini tidak ajaib dan bisa dilogikakan. “Ini masuk akal dan nalar. Begitu juga dengan mengubah air menjadi solar. Kalau ada yang berhasil membuktikan bahwa temuan ini menipu, berarti orang itu hebat,” tegasnya. Dia juga berani mengatakan bahwa tidak ada unsur penipuan sedikitpun dari penemuan-penemuan Joko.

Sebelumnya, Joko memang mendemonstrasikan cara mengubah air menjadi solar di kediamannya. “Tadi hasilnya diujicobakan ke mesin diesel dan bisa,” terang M. Thoriq, salah seorang yang turut menyaksikan demonstrasi tanpa merinci lebih jauh prosesnya.

Selain itu, pria yang mengaku konsultan dari Jakarta itu menggambarkan pembangkit listrik “energi jin” milik Joko. “Tadi di dalam ada sebuah mesin pembangkit listrik kecil. Terdiri dari dua komponen,” terang pria yang mengaku juga melihat pembangkit listrik di UMY.

Menurutnya, pembangkit listrik di UMY hanya separo komponen dari pembangkit listrik yang kemarin dia saksikan di rumah Joko. “Terang saja yang di UMY tidak berfungsi,” ujarnya memberi alasan. Pembangkit itu awalnya dioperasikan dengan batere berkekuatan 1,5 ampere sebanyak enam buah yang berfungsi sebagai pemantik.

Sedangkan di halaman rumah Joko didirikan sebuah tenda besar berwarna biru. Semalam, Joko memang menggelar pertunjukan wayang. Beberapa orang juga tampak hilir mudik mempersiapkan panggung dan alat-alat lain. Tetapi mereka mencegah wartawan masuk kompleks rumah Joko. “Besok saja, Mas,” ujar salah seorang diantara mereka.

PLTH Sebagai Sumber Tenaga Listrik Baru

Selama ini ada semacam konsensus bahwa pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro harus memiliki sumber yang tidak ada habisnya dan dampak yang lebih positif, baik untuk meningkatkan penyediaan dan pemerataan energi khususnya di daerah pedesaan maupun menjadikan wahana guna meningkatkan kemampuan industri dalam negeri untuk menangani pembangunannya mulai dari tahap studi kelayakan, perencanaan, pembuatan mesin dan peralatan, sampai pemasangannya. Dari keterangan itu jelas bahwa sistem mikrohidro tidak bisa diterapkan pada daerah tersebut, maka dengan menggunakan PLTH akan lebih efesien karena tidak memerlukan sumber air yang tidak ada habisnya (mengalir), namun hanya sumber air dari sumur saja yang digunakan. Selain itu pola pengembangan PLTH diselaraskan dengan tingkat keberadaan yang berupa teknologi tepat guna di pedesaan. Teknologi pedesaan dalam pengembangan kelistrikan perlu adanya peningkatan dan ide kreatif yang mampu memecahkan masalah pada keadaan apapun. PLTH itu sendiri merupakan teknologi sederhana yang sudah diaplikasikan baru-baru ini dan diharapkan mempunyai dampak positip terhadap kreatifitas dan dinamisme masyarakat pada pola hidup dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Seperti diketahui bahwa governor merupakan peralatan pengatur jumlah air yang masuk ke dalam turbin agar tenaga air yang masuk turbin sesuai dengan daya listrik yang dikeluarkan oleh pembangkit hingga putaran akan konstan. Penggunaan governor tersebut kurang menguntungkan bila ditinjau secara ekonomis, karena harganya hampir sama bahkan melebihi harga turbin generator. Para produsen di dalam negeri masih belum sanggup bersaing dengan produksi luar negeri, baik dari segi kualitas maupun harganya. Untuk itu perlunya dibuat disain Electronic Load Controller (ELC) sebagai pengontrol beban komplemen pada PLTH dengan kapasitas sesuai yang dibutuhkan di lapangan.

Keren, Pembangkit Listrik Tenaga Bakteri!

Para ilmuwan telah lama mempelajari bakteri yang dapat membersihkan limbah beracun. Salah satunya bakteri yang menjadikan limbah sebagai makanannya. Jenis bakteri tertentu ternyata tidak hanya memakan limbah, tapi juga menghasilkan listrik. Saat ini telah ditemukan bakteri yang makan racun 24 jam selama seminggu sekaligus menghasilkan listrik. Penemuan ini telah dipresentasikan pada Pertemuan Umum ke 105 American Society for Microbiology.

“Bakteri tersebut mampu menghasilkan listrik secara terus-menerus dan pada tingkat tertentu dapat digunakan untuk menjalankan peralatan listrik berdaya rendah,” kata Charles Milliken dari Universitas Kedokteran Carolina Selatan. Penelitian ini dilakukan bersama koleganya Harold May.

“Selama bakteri dipasok bahan bakar (limbah), dapat dihasilkan listrik selama 24 jam sehari,” lanjutnya. Penemuan ini disampaikan Selasa (7/6) dalam Sidang Umum American Society of Microbiology.

Penelitian baru terhadap Desulfitobacteria berhasil mengungkap kemampuannya untuk menghancurkan dan mengatasi polutan yang paling bermasalah antara lain PCB (Polychlorinated biphenyl) dan beberapa larutan kimia.

“Bakteri ini memiliki kemampuan metabolisme yang sangat berbeda dengan yang lain, misalnya makanan yang dapat dikonsumsi,” ungkap Millikan. Artinya, bakteri tersebut dapat mengubah berbagai jenis limbah dalam jumlah besar sebagai sumber listrik. Menurutnya, teknologi ini dapat digunakan untuk membantu reklamasi pengairan yang tercemar dengan membersihkan limbah sekaligus menghasilkan listrik.

Bakteri menjalankan fungsi yang berguna saat berada pada kondisi spora, tahap perkembangan yang tahan terhadap panas ekstrim, radiasi, dan minimnya air. Sifat-sifat yang dimiliki organisme ini, sangat cocok untuk dipekerjakan pada lingkungan yang mustahil dilakukan oleh manusia.

Bukan mustahil, suatu saat akan diciptakan pembangkit listrik tenaga bakteri yang selain merupakan sumber energi terbarukan juga menjadi solusi bagi kesehatan lingkungan karena mampu menguraikan berbagai limbah berbahaya.

Joko Pasiro: Warga Pamekasan Penemu Pembangkit LIstrik Tanpa Bahan Bakar

Senin (2/2) warga Pamekasan sedikit dikejutkan oleh pemberitahuan yang dikeluarkan oleh Joko Pasiro, 40, warga Jalan Pongkoran. Dia mengumumkan keberhasilannya menemukan pembangkit listrik tanpa bahan bakar.

Pembangkit lisrtik yang diklaim mampu menghasilkan tenaga listrik 3.000 watt itu menggunakan tenaga mekanik grafitasi.

Hasil temuannya itu dibuktikan di depan Bupati Pamekasan Kholilurrahman yang secara khusus datang ke rumahnya. Sayangnya, Joko meminta warawan untuk tidak mengambil gambar pembangkit listrik itu dengan alasan masih menunggu proses pengajuan hak paten.

Ia menjelaskan, mesin pembangkit lisrik temuannya menggunakan tenaga roda gila. Pada saat akan menyalakan mesin, Joko terlebih dahulu memutar roda yang terbuat dari rangkaian beton cor seberat 700 kilogram.

“Beton ini akan terus berputar karena menggunakan pemberat yang menjadi pendorong. Perputaran roda ini yang menghasilkan tenaga listrik,” kata Joko.

Ia menjelaskan, ide awal pembuatan pembangkit itu muncul dari sistem listrik yang ada pada sepeda pancal dan kincir air. Sejak 1995 lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) Negeri Pamekasan jurusan elektro itu mencari cara untuk bisa menggerakkan dynamo melalui sistem roda gila. Baru pada awal 2002 ia menemukan cara dan berhasil.

Untuk membuat mesin yang semuanya menggunakan barang bekas itu, pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang servis barang elektronik tersebut membutuhkan biaya Rp16 juta. Sebelum mengumumkan temuannya, Joko pernah mencoba menyalurkan tenaga listrik yang dihasilkan ke tiga rumah.

Bupati Pamekasan Kholilurrahman kepada wartawan mengatakan akan menfasilitasi proses pengajuan hak paten untuk temuan pembangkit listrik tersebut.

“Kami juga akan menfasilitasi temuan ini dengan mencarikan investor. Hanya saja, investasi yang diberikan jangan sampai mengabaikan hak Joko sebagai pemilik teknologi ini,” katanya.

KIta harapkan saja bahwa nama Joko masih bisa tetap tercantum sebagai penemu asli. Tidak terkubur oleh besarnya nama investornya nanti.

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

Hingar-bingar PLTSa di Bandung sudah dingin lagi sepertinya. Untuk saya sendiri masih meninggalkan beberapa pertanyaan yang tersisa. Salah satunya adalah teknologi seperti apa yang akan digunakan. Hal tersebut mestinya sudah dibahas di Studi Kelayakan yang sudah dilakukan. Di berbagai publikasi baik koran, televisi maupun radio saya belum pernah membaca, melihat atau mendengar tentang hal tersebut, mungkin terlewat. Dari hasil googling pun ([1],[2],[3]) tidak didapatkan pernyataan yang eksplisit. Pertama kali yang terlintas dalam pikiran saya dan yang secara implisit dikemukakan dalam banyak tulisan tersebut adalah sampah (apapun isinya) dibakar dan diambil panasnya untuk dikonversi menjadi listrik. Konversinya bisa saja dengan menguapkan air dan uapnya digunakan untuk memutar turbin yang pada gilirannya akan memutar generator listrik untuk menghasilkan listrik, atau dengan cara lain (?).

Proses pembakaran sampah ini yang banyak diprotes karena menghasilkan polusi sampingan yang bisa saja beracun tergantung pada jenis sampah yang dibakar. Keberatan lain adalah hasil sampingan yang dihasilkan oleh sampah sebelum sampah menunggu gilirannya dibakar, seperti misalnya air lindu.
Terlepas dari pro dan kontra bagaimanapun problema sampah harus diatasi dan solusi energi yang renewable juga semakin dibutuhkan. Solusi PLTSa masih tetap bagus menurut saya, hanya teknologinya yang harus dicari yang lebih cocok.
Salah satu solusinya adalah pemakaian biogas microturbine. Cara kerjanya seperti mesin turbojet pada pesawat terbang hanya mempunyai skala yang lebih kecil. Udara dimampatkan oleh suatu kompresor kemudian dicampur dengan bahan bakar kemudian di bakar sehingga mengalami ekspansi. Gas yang berekspansi ini tekanannya digunakan untuk memutar turbin yang berikutnya akan memutar generator listrik. Dalam biogas microturbine ini bahan bakar yang digunakan adalah biogas yang dihasilkan oleh sampah. Hanya sampah yang digunakan disini harus sudah dipilih hanya sampah yang biodegradeable.
Instalasi biogas microturbine ini sudah banyak dipasang di eropa. Daya yang dihasilkan bisa mencapai 60kW bergantung kepada ukuran reaktor biogas, ukuran microturbine dan pasokan sumber biogas.
Dengan skala kecil seperti ini maka PLTSa tidak perlu besar-besaran lagi tapi bisa di instalasi di setiap kecamatan/kelurahan atau didekat pembuangan sampah sementara. Yang diperlukan mungkin kemudahan investasi dan kemudahan penjualan listrik kembali.
Referensi tambahan :

MICROTURBINES AND THEIR APPLICATION
IN BIO-ENERGY

Rumah Impian Tanpa Listrik

Zero Emission House

Zero Emission House
Memang, Jepang patut diacungi jempol. Paling tidak untuk konsep awal sebuah generasi baru rumah ramah lingkungan yang memadukan tradisi Jepang, teknologi serta pemikiran untuk berkontribusi dalam menangani pemanasan global.

Jepang sudah bermimpi, rumah ini akan menjadi rumah masa depan yang peduli bumi. Semua energi dalam Zero Emission House yang digunakan untuk ‘menghidupkan’ rumah, berasal dari alam. Penerangan serta pendingin atau penghangat ruangan, misalnya, tak memerlukan listrik dari luar sehingga kita tidak perlu lagi membayar listrik dan menimbulkan pencemaran karena pembangkit yang menggunakan BBM.

Konsep Zero Emission House ini diperkenalkan secara khusus kepada Indonesia melalui Indonesia-Japan Expo 2008 yang diselenggarakan oleh surat kabar nasional Kompas dan surat kabar Nikkei dari Jepang dari tanggal 1-9 November di JIexpo Kemayoran Jakarta.

Chief Officer Coordination and Management Division Energy and Environment Technology Center NEDO, Mitsuhiro Yamazaki, mengatakan Zero Emission House yang dikembangkan oleh The New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) baru saja diluncurkan dalam KTT G8 di Hokkaido Toyaka medio tahun ini. NEDO baru membuat satu unit prototipe rumah ini di distrik Ibaraki.

Dari alam dan ramah untuk alam
Energi yang menghidupkan rumah pun tak satupun yang memerlukan listrik dari luar. Semua diusahakan sendiri oleh sistem panel surya dan pembangkit listrik tenaga angin skala kecil.

Energi matahari diserap oleh panel surya yang dipasang di atap. Lalu energi tersebut disimpan di baterai dan diolah menjadi listrik oleh power supply. Kapasitas penyimpanan baterai lithium mencapai 6.000 watt.

“Jadi ketika seminggu tidak ada matahari, tetap ada tenaga cadangan,” ujar salah satu penjaga stan NEDO.

Namun, energi matahari bisa saja meredup berminggu-minggu ketika musim hujan atau dingin di Jepang. Hal itu tak masalah, karena rumah dapat memperoleh energi dari pembangkit listrik tenaga angin berbentuk baling-baling dengan sistem penyimpanan yang sama di baterai dan power supply.

“Hemat energi banget. Jadi kita nggak usah bayar listrik lagi deh di masa depan karena listriknya dari matahari. Matahari kan gratis,” ujar penjaga stan tersebut kepada sejumlah siswa SDN Pondok Pinang 12 Pagi Jakarta Selatan yang berkunjung melihat miniatur rumah ramah lingkungan tersebut.

Energi yang disimpan dan diolah menjadi listrik itu akhirnya mampu memanaskan air dan menghidupkan alat penerangan berteknologi OLED yang cahayanya mirip dengan cahaya alam. Jika cahaya bohlam hanya sekitar 10 persen dari cahaya alam. Teknologi OLED mencapai 70 persen. Selain itu, rumah ramah lingkungan nol emisi ini mengupayakan pula sistem pencahayaan mirror duct.

Cahaya dari luar dimanfaatkan untuk penerangan ruangan pada siang hari. Tak hanya teknologi elektriknya, dari segi fisik, rumah ini dibangun dari semen daur ulang yang disebut Eco-cement. Mutu semen sisa pembakaran limbah sampah kota ini dinilai hampir sama dengan semen biasa.

Material perabot rumahnya pun berasal dari bahan kayu sisa pembongkaran bangunan dan hasil penjarangan yang diolah dan direkatkan dengan lem ramah lingkungan dari tannin (di kulit kayu dan daun). Dindingnya pun dilengkapi dengan papan insulasi panas hibrida yang membuat panas terik matahari tidak berpengaruh terhadap suhu di dalam rumah. Teknologi ini membuat rumah tetap adem dan nyaman.

Masih mahal namun, Yamazaki mengakui investasi prototipenya di Ibaraki masih mencapai angka 100 juta yen atau sekitar Rp 9-10 milyar. Saat ini, Jepang sedang berupaya mengembangkannya di Ibaraki dengan memaksimalkan perpaduan teknologi lingkungan, teknologi konservasi energi dan teknologi energi terbarukan.

“Supaya makin murah, bisa dipakai (banyak orang) dan tetap menjadi solusi ramah lingkungan,” ujar Yamazaki.

Improve the web with Nofollow Reciprocity.

Switch to our mobile site